Senin, 09 April 2012

[ Upacara Adat Belian.



Dilaksanakan minimal 1 tahun sekali. Dan ada juga dilaksanakan bukan Cuma setahun sekali yaitu untuk media pengobatan.
Biasanya dilaksanakan di halaman rumah, di daerah pantai atau sungai, di lapangan, dan di panggung.
Menggunakan Sesajen yang berupa makanan khas paser yaitu: Pisang Berangan, nasi ketan, ketan hitam, ketan kuning, ketan putih.A
Dan ada juga kue-kue yang di sediakan yaitu: kue tepung beras seprti: kue cucur, kue cincin, serabi. Kue tepung ketan seperti: pais merah, pais putih, kue sepang,onde-onde, kue sagon.
Upacara ini juga menggunakan Beras Kuning untuk proses penaburan dan krutup padi.
Beras kuning (beras putih di parutkan kunyit, lalu di aduk sampai beras tersebut berwarna kuning)
Krutup padi (padi yang di goreng tanpa minyak)
Dan juga menggunakan Telur ayam kampung, lilin, daun sirih , buah pinang, kapur sirih, gambir, rokok.
Sebelum pengantaran sesajen di mulai, terlebih dahulu rakyat paser dihiburkan dengan tarian khas daerah paser, yaitu tari belian untuk memanggil para roh-roh/roh gaib. Penarinya dari kalangan wanita maupun pria,
 Tari Belian sebagai Pengobatan, Gerakan-gerakan dalam tarian ini diambil dari sebuah cerita pada masa Kerajaan Rekan tatau yang dipimpin oleh pemerintahan Nalau Raja Tondoi (Nalau Raja Diraja).Konon,pada suatu saat ada seorang pembantu kerajaan dari kalangan bawah yang sakti.Suatu hari ia pergi menangkap ikan di sebuah danau (loyu liput putung). Sialnya,kakinya dijepit seekor kepiting raksasa hingga tak sadarkan diri. Sang raja memperoleh petunjuk bahwa untuk membangunkan dan melepaskan kepiting yang sedang tidur itu, sang raja mengumpulkan orang banyak, membuat berbagai macam makanan,membunyikan suara tung,Gendeng,Tengkanong,Gong dan lain-lain sekeras-kerasnya diiringi dengan tari-tarian(suasana gaduh)
Upacara ini betuk pengantarannya ada yang ke pantai ada yang ke daratan.  Jika pengantarannya ke pantai atau sesajen tersebut di larutkan dipantai tersebut. Jika pengantarannya ke daratan sesajennya di antarkan ke dalam hutan dan harus menggunakan ayam untuk di lepas atau dipotong. Dan ada juga ayam panggangnya. Upacara tersebut di laksanakan pada waktu malam hari. Upacara pengantaran ke sungai atau pantai di laksanakan pada waktu siang hari. Upacara tersebut menggunakan doa-doa untuk kemakmuran rakyat/penduduk di sekitarnya.

Senin, 02 April 2012

Singkatnya Paser


Sejarah singatnya Kabupaten Paser secara geografis memiliki kedudukan yang cukup strategis, karena terletak diantara kabupaten dan kota propinsi yang ada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Kedua daerah (propinsi) ini terhubung oleh jalan arteri primer atau jalan negara. Dengan letaknya yang strategis ini, maka kabupaten Paser menjadi begitu penting artinya bagi pertumbuhan ekonomi dan pariwisata di propinsi Kalimantan Timur pada khususnya dan pulau Kalimantan pada umumnya.

PASER

Kabupaten Paser atau sebelumnya dikenal dengan sebutan Pasir merupakan kabupaten paling selatan di Kalimantan Timur. Saya akan pilih tiga kecamatan yakni Tanah Grogot, Paser Belengkong dan Tanjung Harapan. Tiga kecamatan terbagi dalam dua topografi berbeda; darat dan pesisir. Wilayah pesisir (Kecamatan Tanah Grogot dan Tanjung Harapan) terletak di pinggir pantai dengan mata pencaharian utama penduduk adalah nelayan. Rumah-rumah di pesisir dibangun di atas pancang kayu yang tinggi guna mengantisipasi jika air pasang. Di wilayah darat (Kecamatan Paser Belengkong), dilewati oleh Sungai Kandilo, sungai terpanjang kedua di Paser setelah Sungai Pasir, dan menggunakan perahu dalam kegiatan sehari-hari sedangkan beberapa wilayah lainnya bisa dilalui kendaraan roda dengan keadaan jalan yang terbatas. Sinyal dan listrik sangat terbatas, baik di darat dan pesisir dan biasanya listrik baru tersedia dari pukul 18.00 – 22.00 tergantung dari ketersediaan bahan bakar. Kabupaten Paser dihuni oleh berbagai suku seperti Paser, Bugis, Jawa, Bajo, Banjar dan Madura. Suku asli adalah Suku Paser sedangkan Suku Bugis dan Bajo merupakan suku pendatang yang biasanya bekerja sebagai nelayan. Suku Jawa merupakan transmigran yang banyak bekerja di bagian perkebunan dan pertanian. Hubungan antar suku cukup baik walaupun dalam skala kecil masih terdapat konflik-konflik yang biasanya tidak terlalu serius. Mayoritas penduduk Paser beragama Islam dan secara simbolik ditampilkan dalam busana dan acara-acara formal. Karakter masyarakat di bagian pesisir biasanya keras dan agak menutup diri terupritama kepada pendatang.